7 Hal yang Harus Diperhatikan Di Pernikahan Minim Sampah

Kategori: 

Memikirkan pernikahan minim sampah sering kali terdengar mustahil. Ya ga sih? Karena pesta nikah yang sesuai dengan keinginan kita saja sulit apalagi harus membuatnya minim sampah.

Eh tapi Manualle menemukan, ada pasangan dari Lampung yang berhasil mewujudkan pernikahan minim sampah. Mereka adalah Mbak Rinda Gusvita dengan Mas Topan yang keduanya adalah keluarga pegiat gaya hidup minim sampah.

Untuk menyelenggarakan pesta nikah minim sampah ternyata Mbak Rinda dan suami juga mengalami kendala dengan keluarga saat berusaha mengutarakan keingingan mereka. Pestanya memang tidak sempurna namun minim sampah bisa dilaksanakan.

Kira-kira apa saja sih cara mereka perhatikan saat mengadakan pernikahan minim sampah? Yuk kita simak tipsnya di bawah ini. (Tips ini diambil dari situs milik mbak Rinda dengan diolah kembali. Dan sudah dengan seizin yang bersangkutan.)

1. Undangan

Terkait undangan, ternyata mbak Rinda tidak mengundang teman-temannya. Ini menurutnya bukan masalah karena sudah diinformasikan ke teman-teman sejak jauh hari.

Mbak Rinda memang tidak suka pesta dan keramaian. Sehingga yang diundang ke acara pesta hanya keluarga besar dan beberapa tamu. Sangat privat katanya.

Mbak Rinda hanya memberi tahu teman, kolega dan pimpinan lewat tatap muka, menelpon atau mengirim video. Jadi tidak ada sama sekali kertas undangan.

"Saya nggak menghasilkan sampah berupa kertas undangan yang mungkin nggak bakalan bisa diapa-apain lagi. Bahkan membuat orang lain sulit mengelola, harus siapakah sampah yang begitu bagus, elegant, dan mahal itu?"

Rinda Gusvita

2. Venue

Untuk lokasi acara, Mbak Rinda juga bilang kalau pernikahannya tidak membutuhkan sewa gedung karena acara diadakan di kampung dan halamannya cukup untuk membangun tenda.

Wah bersyukur sekali ya kalau masih punya tempat yang luas dan bisa dimanfaatkan.

Jadi pengeluaran mbak Rinda hanya untuk sewa tenda dan perlengakapan. Pun soal dekorasi, mbak Rinda juga tidak yang mewah, sederhana aja.

Tapi ternyata gak lama ternyata ide mbak Rinda ini malah disontek oleh persewaan dekorasi yang kemudian dikembangkan jadi dekorasi minimalis.

3. Pakaian

Untuk pakaian, sepertinya mbak Rinda membuat konsep baju pengantin yang sederhana, polos, elegan. Tapi hasil akhirnya malah jadi sedikit lebih mewah. Untungnya baju pengantin dijahit sendiri sehingga bisa digunakan untuk ke pesta lagi. Tidak sekali pakai dan tidak terbuang. Keren.

4. Seserahan

Mbak Rinda ternyata tidak pengin seserahan yang aneh-aneh. Dia hanya minta seserahan produk make up dan toletries yang benar-benar mbak Rinda pakai sehari-hari.

Selain itu juga minta tas ransel, sepatu boots, celana panjang, kemeja dan outer. Serta tidak ketinggalan, minta notebook, ya notebook laptop itu.

Untuk mengemas seserahan itu semua mbak Rinda pakai keranjang yang terbuat dari bambu yang dibeli di pasar. Sederhana tapi tetap unik.

5. Souvenir

Untuk suvenir pernikahan yang diberi adalah buku almatsurat mini dan totebag dengan beberapa isinya. Mulanya ada ide untuk memberi bibit pohon lho. Atau tanaman-tanaman lain yang lucu dan bisa dipelihara tamu yang datang. Tapi ide ini tidak terealisasi.

6. Mas kawin

Bagian ini nih yang menurut kami paling epic. Mbak Rinda tidak punya cita-cita mas kawin berupa alat sholat. Akhirnya dia minta mas kawin berupa bibit pohon jati. Awalnya jumlah yang diinginkan sebanyak 99 pohon! Tapi akhirnya karena pertimbangan biaya, dipangkas menjadi 9 pohon saja beserta emas 9 gram.

Keren sekali ya, nikahnya minta bibit pohon jati. Kalian bisa baca cerita tentang mencari bibit pohon jati di blog mbak Rinda.

7. Katering

Mbak Rinda adalah orang yang suka sebal melihat piring-piring kotor yang masih ada makanannya di pesta-pesta.

Awalnya dia ingin tamu sepenuhnya self-service, makan ambil sendiri lalu piring kotor ditempatkan di tempat yang sudah disediakan. Tamu dipandu melalui memo-memo untuk mengingatkan tamu untuk menempatkan piring pada tempatnya, termasuk tidak berlebihan saat ambil makanan.

Tapi ternyata itu dianggap tidak sopan akhirnya tidak bisa terealisasi.

Makanan di acara pesta dimasak sendiri kemudian dibagi-bagikan ke sekitar meski tidak banyak mengundang orang.

Dengan cara ini, pesta pernikahan mbak Rinda tidak banyak kontribusi sampah. Menurut mbak Rinda, katering adalah divisi yang paling banyak menghasilkan sampah di pesta. Mulai dari makanan, sendok plastik, wadah makanan dan sebagainya.


Nah itu tujuh hal yang harus dipikirkan menurut mbak Rinda saat ingin mengadakan pernikahan minim sampah. Kira-kira kamu ada masukan lagi tentang apa yang harus diperhatikan saat mengadakan pesta nikah?

Untuk membaca cerita lebih lengkap dari pengalaman mbak Rinda, kamu bisa kunjungi langsung blog pribadinya di Vitarinda.

Kalau kamu punya pengalaman serupa, menarik dan unik tentang mengadakan pesta nikah minim sampah. Boleh juga lho kamu kirim ke Manuall.e.

Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat.

Salam lestari.

Artikel terkait

04/13/2020
20 Inspirasi Dekorasi Pernikahan yang Minim Sampah

Contoh-contoh dekorasi pernikahan yang tidak banyak menghasilkan sampah. Lengkap dengan vendornya.

Read More
04/08/2020
13 Tips Pernikahan Sederhana Ala Manualle yang Bisa Kamu Coba

Pertimbangan budget mendesak pernikahan menjadi lebih sederhana. Namun mengadakan pernikahan sederhana pun tidak mudah. Nah ini tips-tips yang bisa kamu lakukan agar pernikahan sederhana bisa terlaksana.

Read More
03/30/2020
9 Cara Memilih Katering untuk Acara Pernikahan

Ada banyak sekali vendor katering yang tersedia dengan berbagai macam jenis menu dan kualitas. Mana yang harus dipilih?

Read More
2020
Manualle
Developed by TEKNOIA Creative
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram