Mengadakan Pesta Nikah Minim Sampah Ala Pendiri Manuall.é

01/28/2020
Editor Manualle
Kategori: 

Beberapa waktu lalu kami sempat mempublikasikan artikel yang bercerita tentang pengalaman sahabat Manuall.é yang bisa menyelenggarakan pesta pernikahan minim sampah di Lampung.

Kebetulan juga, pendiri Manuall.é juga melangsungkan pernikahan di Bandar Lampung dan Malang. Namun tentu saja setiap pengalaman ada cerita dan keunikan masing-masing. Nah kali ini Manuall.é akan menceritakan bagaimana Gita Prayitno berusaha untuk mengadakan persta nikah yang sederhana tapi tetap layak untuk para tamu.

Menurut Gita, pesta pernikahan di Indonesia memang sudah menjadi sebuah kebudayaan yang tidak terlepas dari sebuah upacara nikah. Namun karena efek media dan tekanan sosial, kerap kali pesta pernikahan harus diadakan secara mewah. Padahal yang seperti itu tidak juga harus dilakukan.

Sama seperti pengalaman yang dialami oleh pada umumnya pengantin, acara pesta membutuhkan banyak sekali persiapan-persiapan. Mulai dari lokasi, pakaian, katering hingga undangan dan dokumentasi.

Semua itu adalah kompleksitas yang memang harus dihadapi oleh pengantin. Jadi buat kamu yang sedang pusing mempersiapkan pesta pernikahan, jangan terlalu shok ya. Semua pengantin umumnya juga mendapat stres yang sama memikirkan persiapan.

Tapi yang ingin ditekankan oleh Mbak Gita adalah, dari setiap persiapan yang harus ada di saat hari acara, kita seharusnya bisa kritis. Jika kita percaya bahwa hidup tidak boleh mencederai lingkungan dan alam, kita harus bisa mempertahankan prinsip tersebut. Termasuk dalam hal pesta pernikahan.

"Memang sulit, karena harus bernegosiasi dengan orang tua. Kan acara pesta itu seringnya adalah acara orang tua dengan sejawatnya," kata Mbak Gita

Tapi bukan mustahil.

Bukan mustahil adalah kuncinya. Karena selalu ada jalan untuk mencapai tujuan. Itu mengapa mbak Gita berusaha mengadakan pesta pernikahan yang tetap layak namun minim sampah. Apa saja yang harus diperhatikan?

1. Dekorasi harus koperatif

Dimanapun acaranya, yang jelas kamu harus bisa mengatur bagaimana sampah, terutama dekorasi dan makanan usai acara ditangani.

Dekorasi adalah salah satu masalah serius yang sering menjadi sampah usai acara berlangsung. Jadi pastikan vendor dekormu siap untuk menjalankan konsep pesta minim sampah.

2. Minimalisir undangan fisik

Persoalan undangan memang sering jadi pemicu konflik. Orang tua kerap ingin seluruh teman dan koleganya diundang ke acara. Alhasil undangan juga harus dianggap layak untuk diberikan. Untuk kamu yang perhatian pada sampah, tentu undangan fisik yang sekali pakai bukan ide yang bagus.

Salah satu solusinya adalah dengan menggunakan undangan digital. Undangan digital bisa kamu pakai untuk para tamu yang usianya cukup muda karena mereka cukup mengerti bagaimana menggunakan teknologi informasi.

Sementara untuk tamu undangan yang lebih tua dan sepuh, kamu memang harus tetap memberi undangan fisik. Jadi pastikan udangan fisiknya tidak menjadi sampah. Pikirkan baik-baik. Ada banyak referensi kok di internet. Atau kamu bisa lihat contoh undangan yang ada di platform Manuall.é

3. Katering buat sendiri

Ini juga bagian paling serius yang harus dipikirkan saat berusaha mengadakan pesta pernikahan. Jumlah undangan yang hadir dan jumlah konsumsi yang disediakan sebisa mungkin diperhitungkan dengan cermat. Kalau tidak, jumlah makanan akan menumpuk dan cenderung tidak bisa dikonsumsi lagi.

Jika memang tidak memungkinkan untuk mengatur jumlah makanan, usai acara pastikan pihak katering juga mengemas makanan dengan baik. Agar kamu bisa merencanakan bagaimana cara mendistribusikan makanan pada pihak-pihak yang mungkin membutuhkan.

Atau seperti yang dilakukan oleh mbak Gita, katering dibuat sendiri bersama-sama dengan tetangga. Jika memang bisa dibuat secara mandiri, tentu biaya dan jumlahnya bisa lebih terkendali.

4. Suvenir ramah lingkungan

Tamu datang ke pesta pernikahan, mengisi kotak kemudian pulang tanpa membawa apapun? Tentu rasanya tidak etis untuk para tamu. Itu kenapa ada suvenir untuk setiap tamu yang datang. Namun sering kali suvenir tidak digunakan oleh para tamu karena suvenir kurang bermanfaat atau tidak bagus kualitasnya.

Jadi kalau kamu memang ingin ada suvenir untuk para tamu, sebaiknya kamu memikirkan suvenir apa yang kira-kira bisa dimanfaatkan oleh mereka. Mbak Gita kala itu memberikan suvenir berupa set alat makan (cutlery) ramah lingkungan untuk para tamu sehingga harapannya alat makan tersebut bisa digunakan dan bermanfaat.

Kabar baiknya, produk set alat makan ini juga tersedia di Manuall.é lho! Hubungi kami segera kalau ingin memesan ya.

5. Gaun pengantin bisa digunakan lagi

Menjahit pakaian dan kemudian hanya dipajang tanpa bisa digunakan kembali adalah big no bagi mbak Gita. Karena seharusnya pakaian pengantin juga tetap bisa digunakan kembali.

Akhirnya pakaian harus dijahit dengan lebih umum agar tetap bisa disesuaikan dengan orang lain jika sewaktu-waktu perlu meminjam. Sehingga para pengantin itu tidak lagi repot menjahit atau membeli baju baru.

6. Seragam keluarga bebas

Di acara mbak Gita, para keluarga dibebaskan untuk berpakaian apapun yang mereka suka. Tidak ada seragam keluarga, dan tidak ada bridesmaid. Semua dibebaskan untuk berpakaian yang nyaman. Prinsip ini bisa mengurangi kebutuhan seragam acara yang tidak terlalu penting dan hanya digunakan dalam satu hari.

7. Make-up minimalis dan tanpa plastik

Dimana letak plastik pada make-up? Tentu pada bulu mata palsu yang kerap kali hanya bisa digunakan satu kali saja. Itu sebabnya mbak Gita enggak berkenan kalau dirinya dirias dan menggunakan bulu mata palsu.

8. Lupakan pernak-pernik lainnya yang tidak esensial

Pernak pernik seperti convetti dan balon tidak boleh ada di acara mbak Gita. Selain tidak terlalu penting, pernak pernik seperti itu hanya akan menghasilkan sampah.


Berkat perhatian pada hal-hal di atas, acara pesta pernikahan mbak Gita tidak banyak menghabiskan biaya dan minim menghasilkan sampah.

"Pernikahan adalah momen sakral yang melibatkan banyak pihak. Namun pernikahan yang indah dan berkesan bukan berarti harus menghabiskan banyak biaya apalagi sampai meninggalkan dampak buruk bagi lingkungan."

"Kami percaya bahwa pertemuan dua insan manusia pastilah juga bagian dari kerja sama semesta, begitupula pertemuan kami. Maka ketika kami bersepakat untuk menikah, kami ingin memastikan perayaan sakral itu adalah juga terima kasih kami pada alam."

Gita Prayitno

"Perayaan pernikahan kami bukan yang terbaik, tapi ini adalah upaya kami untuk meninggalkan kenangan dan jejak baik bagi keluarga juga lingkungan. Semoga kisah kami membantu, dan semoga persiapan pernikahanmu berjalan lancar, ya!"

Artikel terkait

02/24/2020
30 Contoh Undangan Pernikahan Elegan Yang Kamu Bisa Tiru

Membuat undangan yang elegan dan minim sampah memang tidak mudah. Undangan-undangan ini bisa jadi referensi untuk kamu.

Read More
02/20/2020
3 Tips Cara Menulis Kata-kata Undangan Pernikahan yang Baik

Menulis kata-kata undangan tidak seperti menulis kata-kata tulisan ataupun puisi. Ini beberapa hal yang perlu kamu perhatikan

Read More
02/06/2020
Pernikahan Minim Sampah Ala Manuall.é

Dengan semakin banyak pernikahan minim sampah, diharapkan tingkat sampah yang ditimbulkan dari pesta pernikahan akan berkurang dan memberikan dampak yang positif bagi lingkungan.

Read More
2020
Manualle
Developed by TEKNOIA Creative
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram