Pernikahan Minim Sampah Ala Manuall.é

(JOSSTODAY.COM) - Pesta pernikahan adalah sesuatu yang sudah menjadi budaya di Indonesia. Bahkan hampir setiap kali pernikahan dilaksanakan, perayaan pesta tidak bisa dipisahkan. Data pun menunjukkan bahwa rata-rata biaya pernikahan adalah 20 juta hingga 400 juta untuk tingkat menengah. Sementara biaya yang tinggi bisa mencapai 350 juta hingga 2 milyar rupiah dalam satu perayaan pesta pernikahan yang lebih meriah (Bridestory, 2017).

Angka biaya pesta pernikahan pun ternyata meningkat dalam satu tahun. Pesta pernikahan menengah yang sempat berbiaya sekitar 20 juta pada survey tahun 2017, kini naik menjadi 50 juta untuk pesta dengan 100 undangan di tahun 2018. Sementara angka tertinggi yang pernah terjadi dalam satu pesta perayaan meningkat menjadi 5 milyar rupiah pada tahun yang sama. (Bridestory, 2018). Data tersebut diambil di empat wilayah besar di Indonesia yakni Jakarta, Bandung, Surabaya dan Bali.

Masalahnya, angka nilai pesta pernikahan yang semakin tinggi juga diikuti oleh masalah sampah yang ditimbulkan. Sampah hasil limbah dari pesta pernikahan bisa mencapai 200 sampai 300 kg sampah untuk acara pesta 6 jam untuk 100 tamu.

Beberapa limbah pesta pernikahan tersebut umumnya adalah: sisa makanan; plastik sekali pakai pada undangan dan suvenir; wadah makanan dan alat makan sekali pakai; dan kotak hadiah yang sulit terurai.

Padahal Indonesia hingga saat ini masih juga memiliki reputasi sebagai negara yang buruk dalam pengelolaan sampah dan penyumbang sampah plastik tertinggi kedua dunia.

"Kami melihat sampah dari pesta pernikahan ini adalah masalah yang harus diselesaikan. Dan kami mencoba untuk menawarkan solusi dan pendekatan berbeda untuk mengadakan pesta pernikahan. Yaitu pesta pernikahan yang minim sampah," ujar Gita Prayitno, Founder dari Manuall.é

Manuall.é hadir untuk menjadi sebuah platform dan hub untuk segala kebutuhan pesta pernikahan yang lebih etis dan peduli pada dampak lingkungan.

Para peserta dan kolaborator dalam Talkshow How To Organize A Minimal Waste Wedding (01/02)

Pada acara Talkshow & Brand Launching "How to Minimal Waste Wedding" yang berlangsung di Substitute Makerspace, Surabaya pada 1 Februari 2020 lalu, para peserta diajak untuk bisa mengadakan pesta pernikahan yang minim sampah. Pada kegiatan tersebut dijelaskan bagaimana proses-proses penyelenggaraan pesta pernikahan oleh praktisi wedding organizer, pelaku pernikahan minim sampah dan juga pendiri Manuall.é.

"Kami mengajak para peserta yang mayoritas sudah akan menikah untuk mengetahui bahwa ada alternatif cara untuk mengadakan pesta pernikahan."

Diharapkan melalui acara ini peserta tidak lagi bingung tentang bagaimana mengadakan pesta pernikahan yang minim sampah.

Manuall.é sendiri selain mengadakan talkshow juga akan memiliki berbagai inisiatif seperti terus menerus menggali cerita-cerita sukses para pengantin yang bisa mengadakan pernikahan minim sampah di Indonesia.

Melalui website dan media sosial Manuall.é akan terus berbagi informasi tentang konsep pernikahan minim sampah dan bagaimana mewujudkannya.

Tidak hanya itu, Manuall.é juga akan turut melibatkan langsung para vendor sebagai pelaku usaha dengan para calon pengantin yang mencari penyelenggara pesta pernikahan minim sampah.

"Sehingga kami berharap, dengan adanya Manuall.é tingkat sampah yang ditimbulkan dari pesta pernikahan akan berkurang dan memberikan dampak yang positif bagi lingkungan. Jangan sampai, atas nama cinta kita malah merusak lingkungan. Bersama-sama kita melindungi yang tak terganti dengan cinta”, pungkas Gita selaku founder Manuall.é.

Beberapa produk souvenir pernikahan minim sampah ala Manuall.é

Tentang Manuall.é

Manuall.é merupakan sebuah Minimal Waste Wedding Platform dan brand product penyedia souvenir pernikahan ramah lingkungan untuk mengurangi dampak sampah pernikahan.

Sebagai platform pelopor pernikahan minim sampah di Indonesia, Manuall.é menginisiasi berbagai kegiatan talkshow, seminar tatap muka, dan webinar online untuk memberikan sosialisasi dan edukasi dampak lingkungan dari limbah sisa pernikahan.

Tidak hanya itu, Manuall.é juga membantu memberikan layanan konsultasi, informasi vendor dan kiat-kiat melaksanakan konsep pernikahan minim sampah. Melalui situs web dan media sosialnya, Manuall.é memberikan ulasan mengenai pesta pernikahan minim sampah yang sudah pernah dilaksanakan oleh beberapa orang sebelumnya sebagai inspirasi.

Dengan visi sadar dampak lingkungan akan limbah pernikahan ini, Manuall.é ingin mengajak para calon pasangan mewujudkan pernikahan impian dengan kesadaran untuk melindungi bumi, sebagai rumah yang tak terganti bagi seluruh makhluk hidup. 

Reported by Josstoday for Talkshow and Brand Launching Manuall.é

Ini Cara Melaksanakan Pernikahan Minim Sampah

(JawaPos.com) – Pesta pernikahan umumnya dibuat mewah atau unik karena menjadi pesta sekali seumur hidup. Namun, perayaan yang butuh dana tidak sedikit tersebut ternyata juga diikuti dengan masalah sampah setelah pesta berakhir. Itulah yang dibahas dalam talk show dan brand launching How to Organize a Minimal Waste Wedding di Substitute Makerspace kemarin (1/2).

Dalam talk show pagi itu, beberapa narasumber dihadirkan. Tidak terkecuali mereka yang menerapkan konsep minimal waste wedding, Syafrizal Izaqi dan Nofi Fadilla. Pasangan yang menikah pada Juni 2019 tersebut bercerita tentang cara mereka merancang pernikahan sampai mengatur sampah pascapesta.

’’Dari persiapan pernikahan, biasanya bujet untuk katering ini yang paling bengkak dan yang menimbulkan paling banyak sampah,’’ ungkap Nofi.

Namun, dari pengalamannya, dia berbagi satu rumus yang menurutnya wajib diaplikasikan dalam resepsi pernikahan. Rumusnya adalah (jumlah undangan x 2) – 10% dari (jumlah undangan x 2). ’’Rumus ini berlaku, baik untuk yang menggunakan jasa katering maupun masak sendiri. Rumus ini bisa banget meminimalkan porsi makanan dan minuman yang terbuang nanti,’’ katanya.

Namun, jika nanti makanan itu masih saja menyisakan banyak sampah, Zaqi punya solusinya. ’’Bisa dijadikan pupuk kompos. Bisa juga untuk makanan ikan, dicampurkan dedak makanan bebek. Bagi yang tinggal di kota dan nggak ada hewan ternak, bisa donasi ke selter hewan liar,’’ jelas Zaqi.

Selain masalah sisa makanan, sampah pernikahan juga banyak berasal dari undangan dan suvenir. Sering kali undangan pernikahan hanya dibuang setelah dibaca. Bahkan, kalau tidak sempat diantarkan, undangan akan berujung difoto dan dikirimkan lewat chatting. ’’Berdasar pengalaman kami, undangan di-share di akun media sosial. Hanya beberapa yang dicetak buat teman-teman orang tua,’’ cerita Zaqi.

Namun, yang sudah dicetak pun tidak berhenti sampai di situ. Nofi dan Zaqi sepakat bahwa undangan harus bisa dimanfaatkan lagi setelah acara usai. ’’Jadi, bagian belakang diberi gambar kalender yang sudah ada tanda-tandanya biar bisa dimanfaatkan lagi,’’ terangnya.

Gita, Nofi dan Zaqi (Pemerhati Pernikahan Minim Sampah)

Berbeda lagi dengan pengalaman Gita Prayitno yang juga menerapkan konsep minimal waste dalam pernikahannya. Perempuan yang juga founder platform wedding Manuall.é itu bercerita bahwa dirinya menyebarkan undangan pernikahannya lewat website. ’’Tapi, setelah pernikahan usai, saya berdayakan lagi website itu menjadi sebuah blog untuk berbagi tip dan trik,” ujarnya.

Selain undangan, suvenir menjadi poin selanjutnya. Menurut dia, alangkah baiknya memberikan suvenir yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan zero waste lainnya. Misalnya, sedotan bambu, sendok-garpu kayu, atau semacamnya.

Reported by Jawa Post for Talkshow and Brand Launching Manuall.é
Editor : Ilham Safutra | Reporter : ama/c14/nor